Kau Menjadikan Kita Abu
Sungguh
sejak dini aku sudah mulai melihatmu mengisap
sulutan penuh kerugian. Aku tidak peduli
seberapa banyak engkau menelan bulat-bulat bahaya laten tanpa paran. Aku pun
diam, melihatmu dalam paparan. Tidak
mau tahu, tadi dan kemudian.
Dewasa
kini aku masih melihatmu lagi, dengan kepulan asap―yang hampir tiap hari―keluar
dari mulutmu secara berseri. Semakin dewasa lagi, yang kudengar sudah
berganti. Mulutmu berbatuk menjadi-jadi.
Acap
kali terdengar suara itu, aku takut. Tapi, aku hanya bisa menepis kemelut, seolah-olah
tanpa kalut. Acuh-tak-acuh, luka pun ku balut.
Dan dalam kekhawatiranku sendiri aku berpagut.
Tak
ada yang tahu, bahwa ketakutanku kini menjadi momok yang suka memposisikan diri
menjadi tamu. Engkau telah menjadikanku abu, lukaku lukamu, lukamu lukaku, semua baru kau lihat sehabis asapmu.
Oh
Tuan, dalam diam ini aku hanya bisa bertubi-tubi mendoakanmu. Supaya sehat
kondisimu, supaya panjang umurmu.
Amin.
back to top?