chandra
sapphire
this ain't a fairytale
other links

BLOG TUMBLR TWITTER
Wednesday, July 25, 2018 @ 9:00 AM
Akidah, Sebuah Benteng Pembatas dari yang Tak Terbatas
“Karena yang membedakan seorang muslim dan nonmuslim hanyalah syahadat.”

Pada suatu ketika, kajian pranikah rutin yang saya ikuti mengambil topik akidah dalam membentengi keluarga dari hal-hal yang menyesatkan. Saya tidak menyangka, sepulang dari kajian saya memperoleh ilmu yang cukup menampar diri. Saya yang sejak awal ingin belajar tentang akidah, fikih, sirah, dan kawanannya pun sangat beruntung karena Dr. Okrizal Eka, seorang dosen sekaligus pendakwah yang cukup terkemuka di daerah saya, membawakan materi tersebut dengan sangat baik.

Pertama, sepulang dari kajian saya menjadi paham bahwa akidah adalah suatu pondasi yang harus dimiliki umat Islam secara kokoh yang fungsinya serupa dengan sistem imun. Imunitas ini dapat menghadirkan perasaan tenang dalam hidup karena adanya iman, keyakinan, atau kepercayaan yang dimiliki seseorang. Selama lebih dari 20 tahun saya hidup merugi karena baru menyadari makna dan pentingnya akidah saat itu.

Menurut pemahaman dan pengamatan saya, dengan memiliki akidah yang kuat, seseorang dapat mengontrol diri dari dorongan untuk menjangkau lebih dari hal-hal yang sudah diatur dan hal-hal yang sekiranya melampaui batas kemampuannya. Maksudnya? Sebenarnya saya juga agak kebingungan mengutarakan maksud saya secara tepat. Namun saya ingin mencontohkan dengan hal yang sekarang ini mungkin lumrah ditemui di sekitar kita.

Saya meyakini bahwa Islam adalah agama yang toleran, baik untuk internal umat maupun eksternal umat. Namun sejauh mana batas toleransi itu? Sekarang ini, mudah untuk saya temui seruan-seruan perjuangan akan kebebasan Hak Asasi Manusia (HAM). Contohnya mereka, baik yang mendukung maupun mengaku sebagai bagian dari LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender). Saya yakin bahwa hampir sebagian besar umat Islam tahu bahwa jalinan asmara―apalagi hubungan seksual―dengan selain lawan jenis dilarang keras. Ironisnya, ada kok muslim yang toleran―bahkan mendukung kebebasan ini.

Tapi, itu kan hak dan urusannya? Di sinilah saya mulai skeptis dengan kebebasan HAM. Saya pernah menyimak kajian melalui Youtube yang menyampaikan pentingnya peduli terhadap sesama muslim, termasuk peduli akan dosa-dosa saudara muslim yang lain. Sebenarnya, sebagai sesama muslim kita bertanggung jawab untuk saling mengingatkan. Namun, apakah kita berani menegur mereka yang tengah maksiat, mereka yang merupakan orang asing bagi kita? Bagaimana kalau teman kita sendiri? Zaman memang sudah berubah. Terbalik. Yang ada, kalau kita berani menegur, bukan tidak mungkin kita yang akan menemui masalah dan dicap sebagai tukang ikut campur, kolot, konservatif, dan lain sebagainya.

Hati-hati, karena kebebasan-kebebasan yang dielu-elukan itu dapat membatalkan syahadat kita. Bagaimana bisa? Ternyata ada sepuluh hal yang dapat membatalkan syahadat. Di sela-sela topik yang dibicarakan, Dr. Okrizal menyampaikan hal tersebut, meskipun tidak sampai tuntas karena masalah durasi. Ada dua hal yang tercatat terkait pembatal syahadat tersebut. Pertama, pemahaman pluralisme yang berlebihan, yakni menganggap bahwa semua agama sama. Saya cukup kaget waktu Dr. Okrizal memaparkan poin pertama ini. Bagaimana tidak? Pemahaman seperti ini sepertinya sudah dianggap biasa, terlebih untuk negara dengan pluralitas tinggi seperti Indonesia. Saya kemudian tersadar, bahwa Islam sendiri berarti kebenaran. Selanjutnya, silakan maknai sendiri.

Hal kedua yang dapat membatalkan syahadat adalah mengolok-olok sunah Rasul. Contohnya? Dr. Okrizal mencontohkan: menyalahi kodrat sebagaimana LGBT. Ekspresi saya lantas menunjukkan rasa gentar. Saya yakin pasti masih ada hal-hal lain yang termasuk dalam perbuatan mengolok-olok sunah Rasul. Dr. Okrizal pun juga sempat menyinggung tentang cara bermuamalah dengan nonmuslim. Hal semacam ini ternyata sangat penting untuk menjadi perhatian karena interaksi yang kita anggap biasa ternyata tidak boleh dilakukan. Interaksi yang bagaimana? Memberi ucapan selamat pada perayaan mereka dan mendoakan mereka. Saya pun lagi-lagi dibuat terhenyak.

Ngeri rasanya membayangkan apabila ketika kita tanpa sadar meyakini dan melakukan perbuatan-perbuatan yang ternyata dapat “mengeluarkan” kita dari Islam. Bagaimana jika kita diwafatkan dalam keadaan yang demikian tanpa sempat bertaubat dan mengucap kalimat syahadat kembali? Na’udzubillahimindzalik. “Karena yang membedakan seorang muslim dan nonmuslim hanyalah syahadat,” ucap Dr. Okrizal kala itu.

Di sinilah peran penting akidah. Seperti yang Dr. Okrizal ungkapkan, bahwa akidah ini merupakan imunitas diri seorang muslim. Akidah juga berfungsi membawa kita pada keimanan akan hal yang gaib, seperti rezeki, jodoh, arwah, masa depan, kiamat, hingga akhirat. Selain itu, akidah juga memiliki fungsi syariah, yakni sebagai jalan atau cara manusia dalam menjalani dan menghadapi dinamika dunia. Dalam berusaha, apapun itu, manusia hanya diperbolehkan berusaha dalam dimensi kemanusiaan (ada ilmunya) dan doa. Manusia dilarang melampaui dari kedua dimensi tersebut, seperti dengan melibatkan pihak ketiga yang gaib, yang jatuhnya menjadi syirik.

Akidah seharusnya membuat kita dapat terbentengi dari hal-hal yang tidak sesuai syariat dalam menghadapi kedinamisan dunia. Dengan memiliki akidah yang kuat, kita tahu sampai di mana batasan toleransi itu. Akidahlah yang membedakan diri seorang mukmin dengan nonmuslim. Saya mendapat gambaran bahwa seorang muslim yang terlampau cerdas namun tetap berpegang teguh pada akidah dapat tetap terkontrol dalam kecerdasannya dan tetap tunduk pada nilai-nilai ketuhanan, sementara seorang yang lain yang terlampau cerdas pun dapat terus haus akan kebenaran dan terus mencari kebenaran yang sesuai dengan pemikirannya.

Mungkin sebagian dari kita kurang bisa menerima hal-hal yang saya sampaikan di atas. Namun, jika kamu seorang muslim, tak perlu berusaha menghakimi agamamu sendiri. Tulisan ini semata-mata saya hadirkan sebagai narasi sekaligus semoga dapat dimaknai sebagai syiar yang bermanfaat. Ushikum wa nafsi bi taqwallah. Wallahu a’lam bishawab.

Labels:

back to top?
monthly archive

February 2013 June 2013 May 2014 May 2015 June 2015 July 2015 August 2015 October 2015 January 2016 February 2016 April 2016 July 2016 November 2016 January 2017 February 2018 March 2018 July 2018 December 2018 June 2019 July 2019 August 2019 September 2019 October 2019 November 2019 January 2020
recent entries

Ayal Melihatmu Melukis Lukacita After The Party Tentu Saja Waktu Habis Turun Kelambu Pergolakan Dari Hari ke Hari Sebelum Pulang
LAYOUT BANNER COLORS MINIICONS