|
chandra
sapphire
this ain't a fairytale
|
|||||||||
|
BLOG TUMBLR TWITTER |
|
|
Kau Menjadikan Kita Abu
Sungguh
sejak dini aku sudah mulai melihatmu mengisap
sulutan penuh kerugian. Aku tidak peduli
seberapa banyak engkau menelan bulat-bulat bahaya laten tanpa paran. Aku pun
diam, melihatmu dalam paparan. Tidak
mau tahu, tadi dan kemudian.
Dewasa
kini aku masih melihatmu lagi, dengan kepulan asap―yang hampir tiap hari―keluar
dari mulutmu secara berseri. Semakin dewasa lagi, yang kudengar sudah
berganti. Mulutmu berbatuk menjadi-jadi.
Acap
kali terdengar suara itu, aku takut. Tapi, aku hanya bisa menepis kemelut, seolah-olah
tanpa kalut. Acuh-tak-acuh, luka pun ku balut.
Dan dalam kekhawatiranku sendiri aku berpagut.
Tak
ada yang tahu, bahwa ketakutanku kini menjadi momok yang suka memposisikan diri
menjadi tamu. Engkau telah menjadikanku abu, lukaku lukamu, lukamu lukaku, semua baru kau lihat sehabis asapmu.
Oh
Tuan, dalam diam ini aku hanya bisa bertubi-tubi mendoakanmu. Supaya sehat
kondisimu, supaya panjang umurmu.
Amin.
back to top?
|
|
|
Selepas Cerah
Mungkin
malam menyisakan retas-retas gundah
Menanari kisah
yang tak
menghujung indah
Bersambut
bulan yang lelah
menunggu
ronanya memerah
Mungkin pula
bintang menyerah
karena
kemilau tak membuatnya pegah
Rasaku
membayang tapi bernanah
Melumuri luka
tanpa celah
Menjadikannya
istana dalam rumah
Sambil pasrah
Pun aku di
sini menyahut “terserah.”
Labels: irmarindasheyna's, poems, sad-empty back to top? |
|
|
Selamat Pagi, Selamat Malam, Untukmu...
Rindu ini berbilang. Tapi bilangan rindu itu tak mampu mengalikan pesan dengan tulisan , membagi satu dengan tak terhingga, atau menjumlah kita. Rindu ini bilangan apa? "Aku ini semacam bilangan bulat. Meski aku memiliki kekurangan, aku utuh dan sepenuhnya." Selamat pagi. ---------------------------------------------- Mungkin malam tak sedalam pikiranmu. Mungkin bulan tak sebersahaja dirimu. Dan mungkin, bintang tak lebih jauh jaraknya dari kau ke aku. Selamat malam. ---------------------------------------------- Malam perlahan-lahan melunturkan senja. Menjadikan rembulan perhiasannya. Tak pelak membuatnya cantik tak tercela. Namun, ada yang terasa kurang. "Hai, Bulan, mengapa tak kau pakai bintang-bintang?" "Bintang-bintang itu entah kemana perginya. Kudengar sedang mengindahkan hati mereka yang mabuk asmara." Selamat malam, selamat menemui bintang-bintang. ---------------------------------------------- 11 Juni 2015, 6:02 a.m. Labels: irmarindasheyna's, ungkapan-ungkapan back to top? |