chandra
sapphire
this ain't a fairytale
other links

BLOG TUMBLR TWITTER
Saturday, January 18, 2020 @ 1:12 PM
Ayal

Dermaga ada, layarmu tak kunjung bergerak untuk menunda kelana
Terang, mungkin tetap membuatmu gamang
Lengang jalanan pun tak memacumu berancang-ancang

Kau bebal, agak membuat kesal
Pelaut mana yang telah lesap hujan, ia tak lekas?
Pencuri mana yang dalam renyap malam, ia tak bergegas?

Ruas masih lapang
Padahal bukunya berenjana



Jakarta, 18 Januari 2020
13:10 WIB

Labels: ,

back to top?
Friday, November 29, 2019 @ 1:03 PM
Melihatmu Melukis

Melangkah pelan-pelan
sesekali memastikan
diri yang berbalik badan
tengah berjalan
Di belakang,
yang kutangkap
hanyalah punggungmu
yang terus menjauh ke selatan

Sampai kapan
mau melepaskan?
Menahan atau ditahan,
apa tidak kelelahan?

Kala rasa adalah mata
yang terlihat bukanlah kata
Hanya kau yang tengah melukis asa
Dengan tanah dan udara sebagai media
Dan benakmu yang menorehkan tinta
Kemudian memorimu memberikan warna

Oh, Tuhan!
Gambarnya adalah luka!


Jakarta, 27 November 2019
05.45 WIB

Labels: ,

back to top?
Saturday, November 2, 2019 @ 5:20 PM
Lukacita

Setenggat
antara Maghrib dan Isya
Namun,
perjalanan
masih bak, persetujuan
masih di perawanan
Keadaan
kian merentan
Namun,
berlajak pikiran
menjulur menuju kehampaan

Memperhatikan si polan
menyenangkan
tapi lebih melelahkan
lepas angin
lepas angan
dia lukacita
aku berlukacita


Jakarta, 3 November 2019
05:44 WIB



Labels: ,

back to top?
Tuesday, October 22, 2019 @ 6:50 PM
After The Party

Just this clown
walking
after the party
be there smiling
coming home
crying

October 22, 2019

Labels: , ,

back to top?
Friday, September 27, 2019 @ 8:48 PM
Tentu Saja

Tatapmu dalam
membawa rindu
juga ragu
Terkadang nanar
Menyisakan kisah terpendam
tentang pecah hati yang lugu
namun tetap mengurai harap
yang berpendar

Bibirmu kerap mengulas
garis lengkung ke atas
Terkadang datar
serupa menahan
helaan yang kelelahan
membawa belah yang rentan

Langkah kaki
yang sederhana
dan teduh
Tengah menanti-nanti
untuk berhenti dari bertapak
tepat di depan yang dicari

Tangan-tangan
melahirkan tulisan
penyampai pesan
dari kisah, harap, luka, dan penantian
yang berpaduan,
bertautan

Tentu saja
untuk yang tenggelam dalam pandangmu
yang membelah hatimu
yang menghilang darimu

Tentu saja
untuk yang sedang tidak mengamatimu


27 September 2019
20:46 WIB

Labels: ,

back to top?
Sunday, September 22, 2019 @ 6:50 PM
Waktu Habis

Semesta sudah menunjukkan gelagatnya
memberi pesan
atas perintah Tuhan
tentang Tuan dan Puan

Tidak perlu lagi menerka
karena sudah memastikan
bulat sudah
waktu, tak pelak ia mengeluh
habis, katanya dengan berpeluh

Hujan dan angin berunding
menyusun rencana, untuk turun dan berdesau
sekaligus bergurau
hanya untuk memperindah misteri
kisah pilu berliku
di masa lalu

Semesta sudah memenuhi amanat Tuhan
untuk membuat bertahan
untuk tidak membuat selingan
dari Yang Mahakuasa atas perasaan


Tanjung Priok, 
22 September 2019
18:49 WIB

Labels: ,

back to top?
Saturday, August 31, 2019 @ 5:16 PM
Turun Kelambu

Romansa bergeming
Angka tak kunjung berganti
Rentang waktu tak menambah kisah
jarak bertambah

Hanya rasa maklum
tak ada karut-marut
Hanya abu-abu
kini turun kelambu
tak lagi bersibak
binar menjadi sayu
tak lagi termangu
menanti penghujanku


Tanjung Priok,
31 Agustus 2019
17:17 WIB

Labels: ,

back to top?
Monday, August 19, 2019 @ 8:52 PM
Pergolakan

berkali-kali sudah
aku berdesah
menyesap resah
meniupkan gelisah

ada yang tak nyaman
ada yang menginginkan pertemuan
ada yang melakukan penolakan
ada yang berkukuh pada iman

persimpangan
penuh pergolakan
ego pun berusaha mengambil peran
berusaha menenangkan
kegamangan
tergelincir dalam perjalanan
tanpa keridaan


Tanjung Priok, 19 Agustus 2019
20.48 WIB

Labels: ,

back to top?
Monday, July 1, 2019 @ 11:17 PM
Dari Hari ke Hari

Hari-hari ini,
sudah mencoba untuk yakinkan diri
setelah fakta ditemui
adanya ketimpangan disesali
sudah mencoba menempatkan diri
sudah kuputuskan,
jauh, tinggi
beda berperi

aku teringat

hari-hari itu,
hari-hari sederhana
semanis madu
hanya dengan seulas senyum,
yang kuberi makna
sesuka hatiku


Jakarta, 1 Juli 2019
23:16 WIB


Labels: , ,

back to top?
Tuesday, June 18, 2019 @ 8:01 PM
Sebelum Pulang

bumbungan
angan-angan
menyauhkan kapal harapan
untuk bertemu Tuan
sebelum ombak membecanakan

hingga sejauh mata memandang
pandangan ini belum lelah melayang
sampai menangkap sosokmu pulang


Tanjung Priok, 18 Juni 2019.
18:46 WIB

Labels: ,

back to top?
Sunday, December 23, 2018 @ 8:55 PM
Utas Benang Merah

Aku tidak tahu adakah benang merah
yang mengikat kita
Aku tanpa petunjuk
Kebingungan dan bertanya-tanya,
tentang titik temu ini
Yang tak kunjung kuketahui musababnya

Sementara kau,
mungkin dengan kebingunganmu sendiri
Menerka-nerka antara kau dan titik temumu
Sambil menaruh harapmu kepada-Nya,
sebagaimana aku

Atau mungkin,
kau malah sudah,
menemukan uluran benang merah untukmu



Irmarinda Sheyna Chandrasafira
Yogyakarta, 21 Desember 2018
21:35

Labels: ,

back to top?
Wednesday, July 25, 2018 @ 9:00 AM
Akidah, Sebuah Benteng Pembatas dari yang Tak Terbatas
“Karena yang membedakan seorang muslim dan nonmuslim hanyalah syahadat.”

Pada suatu ketika, kajian pranikah rutin yang saya ikuti mengambil topik akidah dalam membentengi keluarga dari hal-hal yang menyesatkan. Saya tidak menyangka, sepulang dari kajian saya memperoleh ilmu yang cukup menampar diri. Saya yang sejak awal ingin belajar tentang akidah, fikih, sirah, dan kawanannya pun sangat beruntung karena Dr. Okrizal Eka, seorang dosen sekaligus pendakwah yang cukup terkemuka di daerah saya, membawakan materi tersebut dengan sangat baik.

Pertama, sepulang dari kajian saya menjadi paham bahwa akidah adalah suatu pondasi yang harus dimiliki umat Islam secara kokoh yang fungsinya serupa dengan sistem imun. Imunitas ini dapat menghadirkan perasaan tenang dalam hidup karena adanya iman, keyakinan, atau kepercayaan yang dimiliki seseorang. Selama lebih dari 20 tahun saya hidup merugi karena baru menyadari makna dan pentingnya akidah saat itu.

Menurut pemahaman dan pengamatan saya, dengan memiliki akidah yang kuat, seseorang dapat mengontrol diri dari dorongan untuk menjangkau lebih dari hal-hal yang sudah diatur dan hal-hal yang sekiranya melampaui batas kemampuannya. Maksudnya? Sebenarnya saya juga agak kebingungan mengutarakan maksud saya secara tepat. Namun saya ingin mencontohkan dengan hal yang sekarang ini mungkin lumrah ditemui di sekitar kita.

Saya meyakini bahwa Islam adalah agama yang toleran, baik untuk internal umat maupun eksternal umat. Namun sejauh mana batas toleransi itu? Sekarang ini, mudah untuk saya temui seruan-seruan perjuangan akan kebebasan Hak Asasi Manusia (HAM). Contohnya mereka, baik yang mendukung maupun mengaku sebagai bagian dari LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender). Saya yakin bahwa hampir sebagian besar umat Islam tahu bahwa jalinan asmara―apalagi hubungan seksual―dengan selain lawan jenis dilarang keras. Ironisnya, ada kok muslim yang toleran―bahkan mendukung kebebasan ini.

Tapi, itu kan hak dan urusannya? Di sinilah saya mulai skeptis dengan kebebasan HAM. Saya pernah menyimak kajian melalui Youtube yang menyampaikan pentingnya peduli terhadap sesama muslim, termasuk peduli akan dosa-dosa saudara muslim yang lain. Sebenarnya, sebagai sesama muslim kita bertanggung jawab untuk saling mengingatkan. Namun, apakah kita berani menegur mereka yang tengah maksiat, mereka yang merupakan orang asing bagi kita? Bagaimana kalau teman kita sendiri? Zaman memang sudah berubah. Terbalik. Yang ada, kalau kita berani menegur, bukan tidak mungkin kita yang akan menemui masalah dan dicap sebagai tukang ikut campur, kolot, konservatif, dan lain sebagainya.

Hati-hati, karena kebebasan-kebebasan yang dielu-elukan itu dapat membatalkan syahadat kita. Bagaimana bisa? Ternyata ada sepuluh hal yang dapat membatalkan syahadat. Di sela-sela topik yang dibicarakan, Dr. Okrizal menyampaikan hal tersebut, meskipun tidak sampai tuntas karena masalah durasi. Ada dua hal yang tercatat terkait pembatal syahadat tersebut. Pertama, pemahaman pluralisme yang berlebihan, yakni menganggap bahwa semua agama sama. Saya cukup kaget waktu Dr. Okrizal memaparkan poin pertama ini. Bagaimana tidak? Pemahaman seperti ini sepertinya sudah dianggap biasa, terlebih untuk negara dengan pluralitas tinggi seperti Indonesia. Saya kemudian tersadar, bahwa Islam sendiri berarti kebenaran. Selanjutnya, silakan maknai sendiri.

Hal kedua yang dapat membatalkan syahadat adalah mengolok-olok sunah Rasul. Contohnya? Dr. Okrizal mencontohkan: menyalahi kodrat sebagaimana LGBT. Ekspresi saya lantas menunjukkan rasa gentar. Saya yakin pasti masih ada hal-hal lain yang termasuk dalam perbuatan mengolok-olok sunah Rasul. Dr. Okrizal pun juga sempat menyinggung tentang cara bermuamalah dengan nonmuslim. Hal semacam ini ternyata sangat penting untuk menjadi perhatian karena interaksi yang kita anggap biasa ternyata tidak boleh dilakukan. Interaksi yang bagaimana? Memberi ucapan selamat pada perayaan mereka dan mendoakan mereka. Saya pun lagi-lagi dibuat terhenyak.

Ngeri rasanya membayangkan apabila ketika kita tanpa sadar meyakini dan melakukan perbuatan-perbuatan yang ternyata dapat “mengeluarkan” kita dari Islam. Bagaimana jika kita diwafatkan dalam keadaan yang demikian tanpa sempat bertaubat dan mengucap kalimat syahadat kembali? Na’udzubillahimindzalik. “Karena yang membedakan seorang muslim dan nonmuslim hanyalah syahadat,” ucap Dr. Okrizal kala itu.

Di sinilah peran penting akidah. Seperti yang Dr. Okrizal ungkapkan, bahwa akidah ini merupakan imunitas diri seorang muslim. Akidah juga berfungsi membawa kita pada keimanan akan hal yang gaib, seperti rezeki, jodoh, arwah, masa depan, kiamat, hingga akhirat. Selain itu, akidah juga memiliki fungsi syariah, yakni sebagai jalan atau cara manusia dalam menjalani dan menghadapi dinamika dunia. Dalam berusaha, apapun itu, manusia hanya diperbolehkan berusaha dalam dimensi kemanusiaan (ada ilmunya) dan doa. Manusia dilarang melampaui dari kedua dimensi tersebut, seperti dengan melibatkan pihak ketiga yang gaib, yang jatuhnya menjadi syirik.

Akidah seharusnya membuat kita dapat terbentengi dari hal-hal yang tidak sesuai syariat dalam menghadapi kedinamisan dunia. Dengan memiliki akidah yang kuat, kita tahu sampai di mana batasan toleransi itu. Akidahlah yang membedakan diri seorang mukmin dengan nonmuslim. Saya mendapat gambaran bahwa seorang muslim yang terlampau cerdas namun tetap berpegang teguh pada akidah dapat tetap terkontrol dalam kecerdasannya dan tetap tunduk pada nilai-nilai ketuhanan, sementara seorang yang lain yang terlampau cerdas pun dapat terus haus akan kebenaran dan terus mencari kebenaran yang sesuai dengan pemikirannya.

Mungkin sebagian dari kita kurang bisa menerima hal-hal yang saya sampaikan di atas. Namun, jika kamu seorang muslim, tak perlu berusaha menghakimi agamamu sendiri. Tulisan ini semata-mata saya hadirkan sebagai narasi sekaligus semoga dapat dimaknai sebagai syiar yang bermanfaat. Ushikum wa nafsi bi taqwallah. Wallahu a’lam bishawab.

Labels:

back to top?
Friday, March 30, 2018 @ 12:01 AM
Hujan yang Menggersang

Kepada hujan yang menggersang,
aku tahu bahwa musim ini, pasti,
akan Ia ganti.
Engkau, akan Ia ganti.
Kembali menjadi hujan yang dulu kukenal,
atau hujan lain yang belum pernah turun di hadapanku.

Kepada hujan yang menggersang,
diam dan dengarkan sebentar, aku memiliki pesan.
Pesan yang sama, yang aku bisikkan pada pemilikmu.
Bahwa kepadaNya, aku tidak meminta hujan
yang belum pernah kukenal.


ISC
29 Maret 2018
23:59

back to top?
Wednesday, February 14, 2018 @ 8:51 PM
Untuk Hari yang Akan Menghentikan Ini

Jadi begini rasanya
bergantung pada tali paling kokoh
Ketika beratnya kepedihan bergantung padamu,
sekuat-kuatnya beban di bawah,
kau tetap harus lebih kuat bergantung pada tali itu
Meskipun pagi menghukummu,
siang menghakimimu,
kau harus menangis dulu
Air mata dan doa menjadi senjata
Seperti pagi ini,
seperti biasa, luka membasah
pedih memerih
Kalau aku beruntung, sore tidak akan melanjutkan
deraan yang dilakukan siang dan pagi


Irmarinda Sheyna Chandrasafira
14 Februari 2018

Labels: , ,

back to top?
Saturday, January 14, 2017 @ 4:20 PM
Pagi Gerimis

Jikalau kau mau datang
Maka datanglah
Terlepas dari aku atau bukan
tempat yang hendak kau tuju

Jikalau kau tak kuasa
terluka
Maka jadikan aku
sebagai sandaranmu
Terlepas dari aku atau bukan
tempat yang hendak kau tuju

Maka menangislah
Peluk aku dengan dingin air matamu
dan lahirkan gemuruhmu
Sekarang, aku milikmu

Atau kalau kau mau
Pamerkan peluhmu padaku
Serbakkan aroma tubuhmu
Maka dengan bahagia,
aku menerimamu

Terlepas dari aku atau bukan
tempat yang hendak kau tuju
Jikalau kau mau tahu
Aku bisa saja menjadi milikmu
Tidak sekarang, tidak juga esok,
tapi selamanya

Maka, kalau kau mau,
terimalah aku
sebagaimana aku menerimamu
Dan jangan ragu untuk datang
dengan segala pesonamu


Irmarinda Sheyna Chandrasafira
2017

Labels: , , ,

back to top?
monthly archive

February 2013 June 2013 May 2014 May 2015 June 2015 July 2015 August 2015 October 2015 January 2016 February 2016 April 2016 July 2016 November 2016 January 2017 February 2018 March 2018 July 2018 December 2018 June 2019 July 2019 August 2019 September 2019 October 2019 November 2019 January 2020
recent entries

Ayal Melihatmu Melukis Lukacita After The Party Tentu Saja Waktu Habis Turun Kelambu Pergolakan Dari Hari ke Hari Sebelum Pulang
LAYOUT BANNER COLORS MINIICONS